Easter JourneySampel

Easter Journey

HARI KE 3 DARI 4

Sabtu Sunyi

“Dari Kematian menuju Kebangkitan: Meretas Jalan Menuju Pengharapan”

Mari membayangkan situasi yang terjadi di tengah komunitas para murid ribuan tahun silam. Yesus Sang Guru meregang nyawa di atas salib. Situasi menjadi sangat kacau. Satu per satu murid-murid Tuhan bersembunyi. Mengamankan diri dari pemuka agama Yahudi yang mungkin saja ingin menghabisi pengaruh Yesus. Hanya tinggal segelintir perempuan yang menemani-Nya hingga akhir. Mengurus jenazah dan buru-buru memakamkan-Nya karena Sabat akan segera tiba. Sabat itu terasa begitu berbeda karena Sang Guru telah tiada. Terlintas ingatan akan pesan-Nya yang mengatakan bahwa Sang Anak manusia akan menderita dan mati, karena dari sanalah Ia akan menggenapi tugas perutusan-Nya. Bahkan Ia juga berkata bahwa pada hari ketiga, Ia akan bangkit. Ingatan tersebut melahirkan bibit-bibit harapan, tetapi dalam situasi yang serba kalut dan begitu kehilangan, terbesit keraguan apakah hal tersebut akan terjadi. Sebuah perasaan tidak nyaman yang sulit sekali untuk dijelaskan.

Dalam reka ulang imajinatif tersebut terkandung makna yang hendak dihayati serta dikomunikasikan melalui Sabtu Sunyi. Ibadah tersebut menjadi sebuah titik antara atau ruang ambang yang menghadirkan krisis yang tidak terelakkan. Yesus telah mati di atas kayu salib, tetapi Ia belum bangkit. Menariknya tradisi, sejarah, dan liturgi gereja tidak membawa kita untuk langsung melintasi ketidaknyamanan itu dan menuju kebangkitan. Justru orang percaya diajak untuk menghayati ruang antara dan krisis tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penghayatan kebangkitan.

Yesus yang mati itu adalah Yesus yang dimaknai tengah berjuang dan melawan kematian. Dalam kematian, Ia menegaskan komitmen-Nya untuk tetap berada dalam derita dan perjuangan yang dialami oleh umat manusia. Mereka yang turut serta dalam kematian-Nya mengalami pengharapan dalam titik terberat kehidupan sekalipun. Setidaknya itu yang tercermin melalui pembacaan atas 1 Petrus 4:1-8. Seorang teolog bernama Hans Urs von Balthasar pernah berujar bahwa jika Yesus bersolidaritas dengan orang yang hidup di atas bumi, maka ketika ia berada di kubur, ia bersolidaritas kepada mereka yang mati. Kematian Yesus seperti sebuah peristiwa keluaran yang baru. Perjalanan itu dari kematian, turun ke dalam dunia orang mati, lalu bangkit. Dari kekelaman menuju kehidupan baru.

Peristiwa kehidupan, kematian, dan kebangkitan adalah garis utuh karya Allah dalam Yesus. Di dalamnya termasuk dengan pengharapan yang pelan-pelan bertumbuh pada masa saat Ia telah meninggal dan sebelum kebangkitan-Nya. Sebuah ruang antara yang mungkin tidak nyaman tetapi kita tahu akan pengharapan yang telah disediakan pada masa yang tidak lama lagi. Itulah makna yang dapat kita lihat dalam Sabtu Sunyi. Makna tersebut sekaligus memberikan kita kekuatan untuk menghadapi masa-masa yang penuh dengan krisis ini. Beragam pergumulan dan tantangan kehidupan terpampang nyata. Krisis hadir untuk kita hadapi, tetapi dalam iman kepada kebangkitan-Nya, perjuangan tersebut dilalui bersama Sang Kristus. Dia yang penuh kasih sehingga rela merengkuh kematian dan dibangkitkan Allah untuk mewartakan pengharapan kepada dunia.

Bagaimanakah selama ini saudara menghayati momen Sabtu Sunyi?

Sudahkah penghayatan tersebut mereformasi cara beriman saudara kepada Sang Kristus?

Firman Tuhan, Alkitab

Tentang Rencana ini

Easter Journey

Rangkaian renungan ini mengajak kita menapaki perjalanan iman dari perjamuan terakhir hingga fajar kebangkitan. Di dalamnya kita diajak merenungkan misteri kasih Allah yang bekerja melalui kerendahan hati, penderitaan, dan keheningan. Jalan salib Kristus memperlihatkan bahwa kasih ilahi tidak hanya menyentuh manusia, tetapi juga seluruh ciptaan yang merintih menantikan pemulihan. Bahkan dalam saat-saat ketika harapan tampak terkubur, iman dipanggil untuk tetap menanti dan percaya. Pada akhirnya, kebangkitan menyingkapkan kebenaran yang mendasar: kasih Allah lebih kuat daripada kematian, dan dari kasih itu lahir pembaruan—bagi manusia, bagi dunia, dan bagi seluruh ciptaan.

More

Kami mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) yang telah menyediakan rencana ini. Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi: journey.alkitab.or.id