Easter JourneySampel

PASKAH
"Kasih-Nya Memulihkan Ciptaan"
Pada penghujung tahun 2025 hingga awal tahun 2026, masyarakat Indonesia terhenyak dengan bencana banjir bandang besar yang meluluhlantakkan beberapa daerah di Sumatera. Berbagai pihak mencoba untuk menganalisis sebab dari bencana yang begitu masif tersebut. Rupanya akar persoalannya adalah pengalih fungsian lahan dan hutan menjadi tanaman produksi, baik itu pohon-pohon untuk kepentingan produksi kertas maupun sawit. Hutan dan tanah yang menyediakan perlindungan alami dari air hujan karena daya tahan dan daya serap airnya semakin menipis dari tahun ke tahun. Air akhirnya bergerak dengan bebas secara alami dan tidak terkendali. Korban berjatuhan dan kerugian material terus merangkak naik. Sumatera belum pulih seutuhnya bahkan hingga saat ini. Atas berbagai analisis tersebut dengan berani para jurnalis kita mengubah penamaan dari bencana yang terjadi. Apa yang terjadi di Sumatera bukan hanya soal bencana alam, melainkan bencana ekologis. Bencana karena kerusakan ekologi yang terjadi. Banyak pihak dicelikkan matanya, meskipun pemerintah kita pada mulanya memproses data itu dengan menyanggah, tetapi pada akhirnya mereka menerima kenyataan pahit itu sebagai bencana karena kerusakan ekologi.
Sebagai orang beriman yang hidup dalam keyakinan iman sebagai mandataris Allah atas pengelolaan ciptaan-Nya. Maka orang-orang Kristen diundang untuk memberikan jawaban yang nyata atas fenomena yang terjadi. Sadarkah kita bahwa kerusakan ekologis tersebut terjadi karena keserakahan manusia yang dilahirkan karena dosa-dosa manusia. Menurut Kejadian 1:31, Allah sesungguhnya menciptakan dunia dengan penuh kasih serta memandang seluruh ciptaan-Nya “sungguh amat baik.” Namun karena dosa, ciptaan yang sungguh amat baik itu, perlahan-lahan ditelan oleh keserakahan manusia. Alam yang penuh damai menjadi rusak. Pemahaman iman yang konstruktif dan kontekstual perlu dibentuk untuk merespons fenomena tersebut. Salah satunya adalah dengan memaknai kembali kebangkitan Kristus sebagai tindakan kasih Allah yang tidak hanya memulihkan umat manusia dari dosa melainkan seluruh ciptaan. Rasul Paulus menulis, “Allah telah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya melalui darah Kristus di kayu salib” (Kolose 1:20). Jadi, Paskah adalah kabar baik bagi semua makhluk—bagi bumi yang terluka, udara yang kotor, air yang tercemar, dan seluruh ciptaan yang merindukan pembaruan.
Kebangkitan Kristus adalah awal dari ciptaan baru. Batu kubur yang terguling menjadi tanda bahwa kuasa dosa dan kematian telah dikalahkan, dan kehidupan baru sedang dimulai. Rasul Paulus menyebut Kristus sebagai “yang sulung dari antara orang mati” (1 Korintus 15:20), artinya kebangkitan Kristus menjadi awal bagi kebangkitan seluruh ciptaan. Dunia yang lama sedang diperbarui menjadi dunia yang baru. Sejak Paskah, Allah bekerja untuk menata ulang ciptaan-Nya: memulihkan relasi, menyembuhkan luka, dan menumbuhkan kehidupan. Karena itu, orang percaya diajak untuk menjadi bagian dari karya pembaruan ini: menjadi pembawa kehidupan, bukan perusak kehidupan.
Injil Matius 28:1-10 mengisahkan pokok pemikiran tersebut dengan baik. Ia menyoroti peran perempuan sebagai penyaksian pertama kebangkitan Kristus. Perempuan yang pada masa itu bahkan tidak dianggap sebagai saksi yang meyakinkan di pengadilan, justru diberi tempat untuk memberi kabar paling penting dalam sejarah: “Ia telah bangkit!” Hal tersebut memberi ruang penafsiran yang amat luas bagi kita bahwa kebangkitan Kristus membawa tatanan baru, yang dahulu dianggap lemah kini dipulihkan dan dimuliakan. Para perempuan itu datang ke kubur dengan hati yang penuh kasih, ingin merawat tubuh Yesus meskipun tampaknya semua sudah berakhir. Kesetiaan dan kepedulian mereka menjadi simbol kehidupan baru yang lahir dari kasih, bukan dari kekuasaan. Dengan demikian, perempuan menjadi tanda awal kebangkitan itu sendiri: kehidupan yang baru muncul dari kasih, kesetiaan, dan keberanian untuk tetap peduli bahkan di tengah kegelapan.
Maka berita bahwa “Ia telah bangkit” bukan sekadar berita rohani tentang kemenangan Kristus atas maut. Kebangkitan-Nya menegaskan bahwa seluruh kehidupan di bumi ini mendapat harapan baru. Lewat kebangkitan-Nya Allah mencipta kembali kehidupan dari kekacauan menuju keteraturan. Ketika Yesus mati, dunia seolah kembali ke dalam kegelapan: murid-murid ketakutan, harapan padam, dan kehidupan berhenti. Namun, pada pagi Paskah, terang Allah menembus kegelapan itu. Kubur kosong menjadi tanda dimulainya ciptaan baru. Dunia lama yang dikuasai dosa dan maut mulai diperbarui oleh kuasa kasih Allah. Kebangkitan membawa keteraturan baru, bukan dalam arti mengembalikan keadaan seperti dulu, melainkan menciptakan tatanan baru di mana kasih, pengharapan, dan kehidupan memimpin. Dalam konteks ekologi, ini berarti bahwa kebangkitan memanggil kita untuk ikut menata kembali dunia yang rusak menjadi rumah yang layak bagi semua ciptaan, di bawah terang Kristus yang bangkit.
Kerusakan alam yang memang telah terjadi tetapi lewat kebangkitan Kristus, kita berpijak pada keyakinan bahwa masih ada pengharapan untuk pemulihan serta pemeliharaan ciptaan-Nya. Sebagaimana dosa kita telah dibasuh bersih oleh darah Kristus, demikianlah seharusnya keserakahan manusia juga turut sirna dalam cinta kasih-Nya. Sehingga ruang untuk pemulihan diri dan semesta terus terbuka lebar. Yesus bangkit pada pagi hari saat fajar menyingsing. Bersama dengan mentari yang memberi sinar kehidupan bagi semesta, demikianlah Kristus juga menyatakan pemulihan-Nya bagi seluruh kehidupan.
Peran konkret apa yang hendak kita lakukan dalam konteks pemulihan ciptaan-Nya?
Firman Tuhan, Alkitab
Tentang Rencana ini

Rangkaian renungan ini mengajak kita menapaki perjalanan iman dari perjamuan terakhir hingga fajar kebangkitan. Di dalamnya kita diajak merenungkan misteri kasih Allah yang bekerja melalui kerendahan hati, penderitaan, dan keheningan. Jalan salib Kristus memperlihatkan bahwa kasih ilahi tidak hanya menyentuh manusia, tetapi juga seluruh ciptaan yang merintih menantikan pemulihan. Bahkan dalam saat-saat ketika harapan tampak terkubur, iman dipanggil untuk tetap menanti dan percaya. Pada akhirnya, kebangkitan menyingkapkan kebenaran yang mendasar: kasih Allah lebih kuat daripada kematian, dan dari kasih itu lahir pembaruan—bagi manusia, bagi dunia, dan bagi seluruh ciptaan.
More
Kami mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Alkitab Indonesia (Indonesian Bible Society) yang telah menyediakan rencana ini. Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi: journey.alkitab.or.id




